Archive for August, 2005

Seteguk CInta…

Tuesday, August 30th, 2005

Walaupun maksiatmu banyak, namun kebaikan Allah
kepadamu selalu berjalan. Dengan berulangnya
keingkaranmu atas janji-janjimu kepada-Nya, Allah
tidak mengharamkan kamu dari nikmat-Nya, bahkan Ia
tetap memberikan kesempatan bagimu untuk
memperoleh surga-Nya. Ia mengutus kepadamu dalil
atau petunjuk ke arah itu. Ia juga menyifati
diri-Nya bahwa Ia sangat lembut dan sangat sayang
terhadap orang-orang mukmin. Ia memberikanmu
kemampuan untuk mempersiapkan bekal menuju taman
surga-Nya yang ditanam dengan tangan-Nya. Ia
menanamnya dengan tangan-Nya untukmu. Dengan
tangan-Nya, karena Ia mencintaimu.

Ia memberimu kekuatan untuk menaati-Nya. Ia
menolongmu untuk berbuat kebaikan. Ia memberimu
kecintaan berupa iman dan menghiasinya dalam
hatimu. Ia menanamkan dalam hatimu tanaman fitrah
yang condong kepada kebaikan. Ia memberitahu
jiwamu jalan-Nya sebelum kau memintanya.

Ia menjadikan malaikat sujud kepada bapakmu, Adam
a.s.. Bahkan Ia mengusir iblis dari langit-Nya,
mengeluarkannya dari surga-Nya, dan menjauhkannya,
karena ia tidak mau sujud kepadamu. Dan kamu masih
termasuk bagian dari keturunan bapakmu, Adam.
Apakah perlu ditambah lagi penjelasan bagaimana
kasih sayang-Nya kepadamu?

Ketahuilah, Allah menyuruhmu agar kamu
mensyukuri-Nya, bukan untuk keperluan-Nya
kepadamu, namun agar kamu mendapatkan keutamaan
lebih dari-Nya. Ketahuilah, Ia memerintahmu untuk
mengingat-Nya bukan karena Ia mendapatkan manfaat,
namun Ia mengingatkanmu karena kebaikan-Nya,
kemurahan-Nya, dan kemuliaan-Nya.

Ketahuilah, Allah memerintahmu untuk meminta
kepada-Nya agar Ia memberi kepadamu. Ia bahkan
memberimu pemberian yang paling agung dan
memberikan keutamaan-keutamaan-Nya tanpa kamu
minta. Bukankah semua itu menunjukkan bahwa Ia
mencintaimu?

Belajar mencintai……….

Tuesday, August 30th, 2005

i lopeh you……..

hehe… gak perlu ongkos mau ngungkapkan kata tsb. apalagi diungkapkan saat berada di jurang, gak bakalan di tolak, :P~

cinta adalah???????  gak bakal habis untuk di bahas atau di cari pengertiannya, berjuta org tumbuh krn cinta dan merasakan cinta, punya banyak versi atas jawabanya jika ditanyakan apa itu cinta.Cukuplah kata cinta itu sendiri yg menjadi batasan dr makna cinta. cinta ya cinta, lopeh ya lopeh.

Cinta, di banyak waktu dan peristiwa orang selalu berbeda mengartikannya.
Tak ada yang salah, tapi tak ada juga yang benar sempurna penafsirannya.
Karena cinta selalu berkembang, ia seperti udara yang mengisi ruang kosong.

Tapi ada satu yang bisa kita sepakati bersama tentang cinta.

Bahwa cinta, akan membawa sesuatu menjadi lebih baik, membawa kita untuk
berbuat lebih sempurna. Mengajarkan pada kita betapa, besar kekuatan yang
dihasilkannya.

Cinta membuat dunia yang penat dan bising ini terasa indah, paling tidak
bisa kita nikmati dengan cinta. Cinta mengajarkan pada kita, bagaimana
caranya harus berlaku jujur dan berkorban, berjuang dan menerima, memberi
dan mempertahankan.

Bandung Bondowoso tak tanggung-tanggung membangunkan seluruh jin dari
tidurnya dan menegakkan seribu candi untuk Lorojonggrang seorang. Sakuriang
tak kalah dahsyatnya, diukirnya tanah menjadi sebuah telaga dengan perahu
yang megah dalam semalam demi Dayang Sumbi terkasih yang ternyata ibu
sendiri. Tajmahal yang indah di India, di setiap jengkal marmer bangunannya
terpahat nama kekasih buah hati sang raja juga terbangun karena cinta. Bisa
jadi, semua kisah besar dunia, berawal dari cinta.

Cinta adalah kaki-kaki yang melangkah membangun samudera kebaikan. Cinta
adalah tangan-tangan yang merajut hamparan permadani kasih sayang.

Cinta adalah hati yang selalu berharap dan mewujudkan dunia dan kehidupan
yang lebih baik.

Dan Islam tidak saja mengagungkan cinta tapi memberikan contoh kongkrit
dalam kehidupan. Lewat kehidupan manusia mulia, Rasulullah tercinta.

Mungkin kita bisa belajar dari kisah tentang totalitas cinta seorang rasul yang di contohkan Allah swt ke pada kita:

Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan
mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan
petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta
kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada
kalian, sunnah dan Al Qur’an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati
mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama
masuk surga bersama aku." Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata
Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu.

Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun
menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali
menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah
tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat
kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia.
Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap
Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat
yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.

Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di
dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang
berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
"Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,

"Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan
menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah
membukan mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak
tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur
Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang
menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang.
"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang
memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah,
Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri,
tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian
dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia
menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah
dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para
malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti
kedatanganmu," kata jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega,
matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?"
Tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman
kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah
berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh
Rasulullah ditarik tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh,
urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk
semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau
palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu
itu. "Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata
Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang
tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua
siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin,
kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak
membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis
shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang
lemah di antaramu." Di luar !
pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah
menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telingan ke bibir
Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii…" Dan,
pupuslah kembang hidup manusia mulia itu.

Hikssssssssss……….

MY GUNS ARE LOADED

Tuesday, August 30th, 2005

I used to sit right down and imagine
What it would be like
To have your loving arms around me
On a starry night

Oh but I got tired of dreaming
Cos dreaming’s nothing to do
I got tired of dreaming
About you

My guns are loaded
You’re in my sights
I’m gonna love you tonight
My guns are loaded
They’re pointing at your heart
All I need is your loving
And a full time place in your heart
All I need is your loving
And a full time place in your heart

I used to sit right down and imagine
What it would be like
To have you lying there beside me
All through the night

Alhamdulillahi Rabbil Aalamiin

Tuesday, August 30th, 2005

Aku bermimpi suatu hari aku pergi ke surga
dan seorang malaikat menemaniku
dan menunjukkan keadaan di surga.

Kami berjalan memasuki suatu ruang kerja
penuh dengan para malaikat.
Malaikat yang mengantarku berhenti di depan
ruang kerja pertama dan berkata, " Ini adalah Seksi
Penerimaan.

Disini, semua permintaan yang ditujukan pada Allah diterima".
Aku melihat-lihat sekeliling tempat ini dan aku
dapati tempat ini begitu sibuk dengan begitu banyak malaikat yang
memilah-milah seluruh permohonan yang tertulis
pada kertas dari manusia di seluruh dunia.

Kemudian aku dan malaikat-ku berjalan lagi melalui
koridor yang panjang lalu
sampailah kami pada ruang kerja kedua.
Malaikat-ku berkata, "Ini adalah Seksi Pengepakan
dan Pengiriman.

Disini, kemuliaan dan rahmat yang diminta manusia diproses
dan dikirim ke manusia-manusia yang masih hidup yang memintanya".
Aku perhatikan lagi betapa sibuknya ruang kerja itu.
Ada banyak malaikat yang bekerja begitu keras karena ada begitu
banyaknya permohonan yang dimintakan dan sedang dipaketkan
untuk dikirim ke bumi.

Kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai pada
ujung terjauh koridor panjang tersebut dan berhenti
pada sebuah pintu ruang kerja yang sangat kecil.

Yang sangat mengejutkan aku, hanya ada satu
malaikat yang duduk disana, hampir tidak melakukan apapun.
"Ini adalah Seksi Pernyataan Terima Kasih", kata
Malaikatku pelan.

Dia tampak malu.
"Bagaimana ini? Mengapa hampir tidak ada pekerjaan
disini?", tanyaku.

"Menyedihkan", Malaikat-ku menghela napas. " Setelah
manusia menerima rahmat
yang mereka minta, sangat sedikit manusia yang
mengirimkan pernyataan terima kasih".

"Bagaimana manusia menyatakan terima kasih atas
rahmat Tuhan?", tanyaku.

"Sederhana sekali", jawab Malaikat.
"Cukup berkata, ‘ALHAMDULILLAHI RABBIL AALAMIIN, Terima kasih, Tuhan’ ".

"Lalu, rahmat apa saja yang perlu kita syukuri", tanyaku.
Malaikat-ku menjawab, "Jika engkau mempunyai makanan
di lemari es, pakaian yang menutup tubuhmu,
atap di atas kepalamu dan tempat untuk tidur, maka
engkau lebih kaya dari 75% penduduk dunia ini.

"Jika engkau memiliki uang di bank, di dompetmu, dan
uang-uang receh, maka
engkau berada diantara 8% kesejahteraan dunia.

"Dan jika engkau mendapatkan pesan ini di komputer
mu, engkau adalah bagian
dari 1% di dunia yang memiliki kesempatan itu.

Juga…. "Jika engkau bangun pagi ini dengan lebih
banyak kesehatan
daripada kesakitan … engkau lebih dirahmati
daripada begitu banyak orang
di dunia ini yang tidak dapat bertahan hidup hingga
hari ini.

"Jika engkau tidak pernah mengalami ketakutan dalam
perang, kesepian dalam penjara, kesengsaraan penyiksaan,
atau kelaparan yang amat sangat ….
Maka engkau lebih beruntung dari 700 juta orang di
dunia".

"Jika engkau dapat menghadiri Masjid atau pertemuan
religius tanpa ada ketakutan akan penyerangan,
penangkapan, penyiksaan, atau kematian …

maka engkau lebih dirahmati daripada 3 milyar orang di
dunia.

"Jika orangtuamu masih hidup dan masih berada dalam
ikatan pernikahan …
maka engkau termasuk orang yang sangat jarang.
"Jika engkau dapat menegakkan kepala dan tersenyum,

maka engkau bukanlah
seperti orang kebanyakan, engkau unik dibandingkan
semua mereka yang berada dalam keraguan dan keputusasaan.

"Jika engkau dapat membaca pesan ini, maka engkau
menerima rahmat ganda,
yaitu bahwa seseorang yang mengirimkan ini padamu
berpikir bahwa engkau
orang yang sangat istimewa baginya, dan bahwa,
engkau lebih dirahmati
daripada lebih dari 2 juta orang di dunia yang
bahkan tidak dapat membaca
sama sekali".

Nikmatilah hari-harimu, hitunglah rahmat yang telah
Allah anugerahkan kepadamu.

Dan jika engkau berkenan, kirimkan pesan
ini ke semua teman-teman-mu untuk mengingatkan mereka betapa
dirahmatinya kita semua.

"Dan ingatlah tatkala Tuhanmu menyatakan bahwa,
‘Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti Aku akan menambahkan lebih banyak
nikmat kepadamu’ ".
(QS:Ibrahim (14) :7 )